Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menyatakan:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛
إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ،
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي
اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ
امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهُ
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالَهُ
مَا تُنْفِقُ يَمِينَهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ
عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat dimana tidak ada
naungan kecuali naungan Allah 'Azza wa jalla: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh
dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terkait
dengan masjid, dua orang yang saling cinta karena Allah 'Azza wa jalla, bersatu dan
berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita
yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata,
‘Aku takut kepada Allah’, seseorang yang bershadaqah dan ia menyembunyikan shadaqahnya hingga
tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya,
serta seseorang yang berdzikir kepada Allah 'Azza wa jalla sendirian hingga
meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: مَنْ
كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ
يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ
يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ
أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal, jika ketiganya ada pada seseorang dia akan merasakan lezatnya
iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, cinta
kepada seseorang semata-mata hanya karena Allah, dan dia tidak senang
kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dilemparkan ke
dalam api.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ
“Barangsiapa yang ingin merasakan lezatnya iman hendaknya dia tidak
mencintai seseorang kecuali karena Allah 'Azza wa jalla.” (HR. Ahmad, dihasankan
Asy-Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6164)
Memilih teman yang baik
Telah kita sebutkan di awal pembahasan bahwa tidak semua orang bisa kita jadikan teman. Sehingga seorang muslim yang ingin menyelamatkan agamanya hendaknya memilih teman yang baik. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang ada di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang
kalian meneliti siapa yang dijadikan sebagai temannya.” (HR. Ahmad dan
Abu Dawud no. 4833, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam
Ash-Shahihah no. 127)Al-Imam Qatadah rahimahullah berkata: “Demi Allah. Kami tidaklah melihat seseorang berteman kecuali dengan yang setipe dan sejenis (satu sama sifatnya). Maka hendaknya kalian berteman dengan hamba-hamba Allah yang shalih agar kalian bersama mereka atau seperti mereka.”
Ditanyakan kepada Sufyan rahimahullah, “Kepada siapa kami bermajelis?” Beliau menjawab, “Seseorang yang jika engkau melihatnya engkau ingat Allah 'Azza wa jalla, amalannya mendorong kalian kepada akhirat, dan ucapannya menambah ilmu kalian.” (Lihat Min Hadyis Salaf hal. 54-55)
Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Seorang yang berakal tidak akan bersahabat dengan orang-orang jahat.”
Beliau juga berkata: “Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: Istri yang senantiasa taat kepadanya, anak-anak yang shalih, teman-teman yang baik, dan rezekinya di negerinya.” (Lihat Ni’matul Ukhuwah hal. 22)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar